cerpen mahasiswa studi akhir
Catatan Mahasiswa Studi Akhir
S"N
Disudut ruang keluarga rangga terduduk membisu, telinga yang ingin ia tutup dan mulut yang ingin membrontak, sedangkan kaki yang ingin berjalan tak kuasa berbuat apa, di hadapan keluarganya. Omelan dan tekanan tentang kuliahnya yang tak berujung membuat ia frustasi dan depresi dengan keadaan, “papa dan mama mengongkos kamu itu untuk kulia dan wisuda supaya bisa cepat kerja ” omelan sala satu kakaknya, rangga hanya menganggukan kepala dan pasra pada keadaan, dalam benaknya “mungkin hari ini aku dipukili habis oleh narasi keluargaku, namun aku berjanji dengan studi yang lama ini aku akan membuktikan bahwa aku bisa jadi orang yang bermanfaat dan tidak mengemis kerja ketika paska wisuda.
Rangga adalah salah satu mahasiswa program studi bahasa dan sastra Indonesia di universitas ternama Maluku Utara. 6 tahun berada dalam dunia kampus membuat ia terus menjadi bahan wacana keluarga hingga lingkungan di kampungnya. Hal ini lah yang membuat ia rishi untuk balik ke kampung halamannya walau jarak tempat kuliah dengan kampung nya hanya beda satu pulau dan untuk menuju ke kampungya hanya butu waktu satu jam, namun ia ia tetap memilih bertahan di kosannya sembari menghabiskan waktu untuk membaca buku bersama 2 sahabatnya atau melakukan aktifitas sosialnya dengan organisasinya.
Jalan juang rangga dalam kampus begitu berliku, tidak disukai dosen karena kekeritisannya ataupun terlibat dalam menyuarakan masalah-masalah sosial, hingga tak terasa kulianya telah memasuki semester 11 di tambah matak kulia yang belum lulus membuat keluarganya perlahan tadak lagi menaruh kepercayaan padanya, hari-hari yang dilalui rangga penuh dengan depresi dan frustasi memikirkan omongan keluarganya. Hingga sering kali ia memikirkan untuk berhenti dari dunia kampus, namun ia terus didukung oleh dia sahabat baiknya yang masih menemaninya dalam dunai kampus.
Setelah 1 balun rangga memilih bertahan di tanah rantau, ia memutuskan balik ke kampunya. Hari minggu pagi dengan modal uang pinjaman dari temannya sebesar Rp 35 ribu ia balik ke kampungnya, dalam perjalanan pulang dalam benaknya semoga hari ini tidak ada omelan lagi, namun sunggu tak diduga, setalah sampai dirrumah ia telah disambut dengan pertanyaan.
Kapan wisuda.? Kalao tidak mau kulai dari sejak awal ngomong supaya tidak membuat rugi keluarga.
Kaki yang terlanjur masuk kedalam rumah dan ingin menarik kembali pun tak kuasa. Rangga hanya bisa mendengarkan dan masuk kamar, walau diluar masih terdengar omelan yang terus berterbangan di langit-langit rumah. Dengan menguatkan hati rangga beranikan diri untuk keluar dari kamar dan bercerita dengan mamahnya.
Mah bukan aku tidak mau wisudah, tapi setidaknya biarkan aku kesempatan untuk memilih jalan hidupku, jika sudah tidak mampu mengongkos aku kulia, bilang mama, supaya aku bisa cari jalan keluar mengongkos kulia hingga wisuda,”ucap rangga.
Bukan masalah ongkos, tapi kapan wisuda, apa kamu tidak memikirkan mama dan papa yang terus jadi bahan omongon, belum lagi ade-ade sepupumu yang kulia kemarin saja sudah wisuda” balas mama.
Ringga pun terdiam dan tak bisa berkata apa-apa hanya bisa menunduk karena apa yang bisa dia katakan lagi jika alasanya adalah kehormata keluarga.
mungkin tak bisa dipungkiri oleh rangga, jika alasan mamanya seperti itu, karena tananan sosial saat ini semuah memandang kesuseksan hanya dari titel dan jabatan. Setelah 1 hari di kampungnya ia memutuskan balik dengan keaadan beban di kepala yang begitu berat, dengan langka yang santai ia beruacap dalam diam “aku akan membuktikan pada mama dan papa aku akan behasil membahagiakan mama dan papa, ini hanya masalah waktu, tunggu sebantar lagi mah.”

Komentar
Posting Komentar